By | February 18, 2017

Kesultanan Aceh merupakan sebuah kerajaan pantai yang letaknya sangat strategis di jalur yang padat akan perdagangan atau lebih tepatnya Selat Malaka. Untuk menjaga daerahnya, Kesultanan Aceh tidak memakai benteng keliling namun menempatkan beberapa benteng kecil di sekitar Selat Malaka. Hal ini dilakukan untuk terus berwaspada terhadap musuh, baik itu dari kerajaan tetangga maupun dari luar yang selalu menincar Kesultanan Aceh. Benteng-benteng tersebut berbeda bentuk serta komponen di dalamnya antara satu dengan yang lain.

a. Pertahanan Benteng di Aceh-Nusantara

Benteng merupakan salah satu peninggalan manusia masa lalu yang masih banyak ditemukan di Indonesia. Benteng adalah dinding dari tembok (batu, tanah, dan sebagainya) untuk melindungi kota dari serangan musuh (Poerwadarminta, 1982:21). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan benteng merupakan bangunan tempat berlindung atau bertahan dari serangan musuh yaitu manusia dan hewan (Depdikbud, 1988:103).

Kota-kota di Indonesia berdasarkan bukti-bukti kepurbakalaan dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu jenis kota memakai benteng keliling untuk pertahanan (Tuban, Banten, dan Cirebon) dan jenis kota tidak memakai benteng keliling (Samudera Pasai, Gresik, Kesultanan Aceh). Banda Aceh yang merupakan salah satu kota yang tertua tidak mempunyai benteng keliling, namun benteng-benteng hanya ditempatkan pada muara sungai yang dibuat dari batu. Di daerah pedalaman ditemukan pula benteng-bentang yang terbuat dari batu kali dan bata.

Benteng-benteng bekas peninggalan Kesultanan Aceh memiliki bentuk persegi empat dan persegi panjang dengan variasi berdinding dua sampai empat sisi yang dilengkapi dengan lubang pengintai. Perbedaan dari beberapa benteng tersebut bergantung dengan konsep pendiri benteng tersebut.

b. Agama dan Politik Aceh

Kehadiran para pedagang Islam di Kesultanan Aceh menjadi daerah ini sebagai pusat penyebaran dan pembelajaran Agama Islam. Banyak para ulama serta pujangga mengajarkan ilmu Agama Islam dan ilmu pengetahuan umum serta banyak menulis kitab-kitab mengenai ajaran agama. Ulama dan pujangga yang pernah datang ke Kesultanan Aceh di antaranya seperti Muhammad Azhari (Ilmu Metafisika), Syeh Abdul Khair ibn Syeh ibn Hajar (Bidang Mistik), Muhammad Yamani (Ilmu Usul), Syeh Muhammad Jailani ibn Hasan ibn Muhammad Hamid (Bidang Logika), dan Syeh Bukhari al-Jauhari (Pengarang Kitab Tajus Salatin atau mahkota raja-raja).

Tokoh agama dan pujangga lainnya yang ada di Kesultanan Aceh adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniry, dan Syeh Abdur Rauf Singkili. Pada masa Kesultanan Aceh juga banyak dibangun infrastruktur berupa masjid-masjid sebagai tempat beribadah, di antaranya Masjid Baiturrahman dan Baitul Musyahadah serta taman yang indah bernama taman ghairah.

Dalam usaha memperkuat dan memperkenalkan Kesultanan Aceh keluar, kesultanan membangun hubungan politik dengan beberapa kerajaan yang ada di Nusantara dan kerajaan asing. Hubungan politik Kesultanan Aceh dan Kesultanan Turki terlihat paling erat. Hal ini dibuktikan dengan diterimanya perutusan dari Kesultanan Aceh yang kemudian dibalas dengan mengirimkan dua buah kapal beserta 500 orang ahli-ahli militer dan pembuat meriam pada tahun 1566 M.

Pada masa kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah (1588-1604 M) hubungan perdagangan Kesultanan Aceh juga dilakukan dengan beberapa bangsa asing. Hubungan dengan bangsa Portugis dijalan dengan kesepakatan perdamaian dari kedua belah pihak dengan memberi kebebasan berdagang Portugis di ibukota kesultanan. Kesultanan Aceh selanjutnya melakukan hubungan perdagangan dengan Kerajaan Belanda pada tahun 1602 M. Bangsa Portugis yang mengetahui hal tersebut mencoba menghasut agar Kesultanan Aceh tidak melakukan hubungan kerjasama dengan Belanda, namun tidak dipedulikan oleh pihak kesultanan. Semakin banyak orang asing yang melakukan perdagangan di daerah kesultanan, maka akan semakin baik dan maju kesultanan. Realisasi dari hubungan tersebut adalah dengan disambut begitu baiknnya Abdul Zamad dan Sri Mohammad yang merupakan dua orang utusan kesultanan oleh Pangeran Mauritz. Hubungan selanjutnya dilakukan Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Inggris yang dibuktikan dengan diterimanya sepucuk surat dari ratu Inggris yang dibawakan oleh James Lancaster.

c. Budaya Kesultanan Aceh

1) Pembangunan Sarana Pertahanan

Sarana pertahanan adalah sesuatu yang dapat dijadikan pertahanan di dalam atau di belakang, tidak hanya dibuat manusia tetapi juga diciptakan oleh Tuhan menghalangi musuh-musuh untuk menyerang juga dikatakan sebagai pertahanan.

2) Benteng Batu

Pembangunan serta perawatan benteng batu di kesultanan Aceh berkisar antara abad ke-16 M dan 17 M. Beberapa benteng batu tersebut di antaranya Benteng Kuta Lubok (bekas benteng pertahanan Portugis lalu direbut oleh Kesultanan Aceh dan mendapat perawatan pada masa Sultan Iskandar Muda), Benteng Inong Balee, Benteng Indra Puri, dan Benteng Indra Patra. Selain Benteng Kuta Lubok, beberapa benteng-benteng batu yang disebutkan tadi rata-rata tidak diketahui pada masa siapa pembangunannya dan pada tahun berapa untuk secara pasti.

3) Budaya Pemanfaatan Benteng Untuk Pertahanan

Sumber sejarah menyebutkan Kesultanan Aceh sering terjadi peperangan dengan kerajaan lainnya, antara lain Portugis, Johor, kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur, dan bahkan dengan kerajaan tetangga yang paling dekat. Peperangan yang berlangsung di ibukota kesultanan selama abad ke-16 M dan 17 M hanya berlangsung satu kali, yaitu dengan Portugis di Lamreeh Aceh Besar. Peperangan selanjutnya tidak pernah lagi di ibukota kesultanan atau darat, melainkan di laut. Benteng-benteng yang ada di sepanjang pesisir kesultanan Aceh tidak lain fungsinya hanya untuk pengontrolan dan pengamanan daerah setempat serta fungsi-fungsi yang lainnya.

d. Budaya Materi Pendukung Benteng

Meriam merupakan salah satu materi yang mendukung benteng di Kesultanan Aceh. Kehadiran meriam di Aceh pertama sekali didatangkan dari Turki melalui persahabatan yang dirintis oleh Sultan Al-Kahhar (1539-1571 M), setelah mengirimkan dua orang utusan untuk mendapatkan bantuan militer melawan Portugis di Malaka.

e. Bentuk Benteng Luar Aceh

Pembangunan benteng di Indonesia sudah ada sejak abad ke-7 M, namun sayangnya benteng-benteng yang berdiri pada abad tersebut hingga abad ke-15 M sangat sulit ditemukan. Hal ini dikarenakan pada umumnya benteng-benateng tersebut terbuat dari kayu, bambu, dan tanah sehingga tidak dapat bertahan lama karena dimakan usia. Salah satu benteng yang masih ada dan tersisa yaitu Benteng Ujung Pandang yang dibangun oleh kerajaan Makasar pada tahun 1545.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *